Cari Artikel

    • ONLINE

      Selasa, 16 Agustus 2011

      macam-macam sistem pengapian

      Sistem pengapian CDI

      Capacitor Discharge Ignition (CDI)
      merupakan sistem pengapian elektronik yang sangat populer
      digunakan pada sepeda motor
      saat ini. Sistem pengapian CDI terbukti lebih menguntungkan dan lebih baik
      dibanding sistem pengapian konven-sional
      (menggunakan platina). Dengan
      sistem CDI, tegangan pengapian
      yang dihasilkan lebih besar (sekitar 40 KV) dan stabil sehingga proses
      pembakaran campuran bensin dan udara bisa berpeluang makin sempurna
      Dengan demikian, terjadinya endapan karbon
      pada busi juga bisa dihindari. Selain itu, dengan sistem CDI tidak memerlukan penyetelan seperti penyetelan pada platina. Peran platina telah digantikan oleh oleh thyristor sebagai saklar elektronik dan pulser coil atau “pick-up coil” (koil pulsa generator) yang dipasang dekat flywheel generator atau rotor alternator (kadang-kadang pulser coil menyatu sebagai bagian dari komponen dalam piringan stator, kadang-kadang dipasang secara terpisah).
      Secara umum beberapa kelebihan sistem pengapian CDI dibandingkan dengan sistem pengapian konvensional adalah antara lain :
      1. Tidak memerlukan penyetelan saat pengapian, karena saat pengapian terjadi secara otomatis
      yang diatur secara
      elektronik.
      2. Lebih stabil, karena tidak ada loncatan bunga api seperti yang terjadi pada breaker point (platina) sistem pengapian konvensional.
      3. Mesin mudah distart, karena tidak tergantung pada kondisi platina.
      4. Unit CDI dikemas dalam kotak plastik yang dicetak sehingga tahan terhadap air dan
      goncangan.

      5. Pemeliharaan lebih mudah, karena kemungkinan aus pada titik kontak platina tidak ada.

      Cara Kerja Sistem Pengapian CDI


      Pada saat magnet permanen (dalam flywheel
      magnet) berputar, maka akan dihasilkan arus listrik AC dalam bentuk induksi listrik dari source coil seperti terlihat pada gambar disamping. Arus ini akan diterima oleh CDI unit dengan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt. Arus tersebut selanjutnya dirubah menjadi arus setengah gelombang (menjadi arus searah) oleh diode, kemudian disimpan dalam kondensor (kapasitor) dalam CDI unit. Kapasitor tersebut tidak akan melepas arus yang disimpan sebelum SCR (thyristor) bekerja. Pada saat terjadinya pengapian, pulsa generator akan menghasilkan arus sinyal. Arus sinyal ini akan disalurkan ke gerbang (gate) SCR. Dengan adanya trigger (pemicu) dari gate tersebut, kemudian SCR akan aktif (on) dan menyalurkan arus listrik dari anoda
      (A) ke katoda (K).
      Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan kapasitor melepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus mengalir ke kumparan primer (primary coil) koil pengapian untuk menghasilkan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt sebagai tegangan induksi sendiri. Akibat induksi diri dari kumparan primer tersebut, kemudian terjadi induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar 15 KV sampai 20 KV. Tegangan tinggi tersebut
      selanjutnya mengalir ke busi dalam bentuk loncatan bunga api
      yang akan membakar campuran bensin dan udara dalam ruang bakar. Terjadinya tegangan tinggi pada koil pengapian adalah saat koil pulsa dilewati oleh magnet, ini berarti waktu pengapian (Ignition Timing) ditentukan oleh penetapan posisi koil pulsa, sehingga sistem pengapian CDI tidak memerlukan penyetelan
      waktu pengapian seperti pada sistem pengapian
      konvensional. Pemajuan saat pengapian terjadi secara otomatis yaitu saat pengapian dimajukan bersama dengan bertambahnya tegangan koil pulsa akibat kecepatan putaran motor. Selain itu SCR pada sistem pengapian CDI bekerja
      lebih cepat dari contact breaker (platina) dan kapasitor
      melakukan pengosongan arus (discharge) sangat cepat, sehingga kumparan sekunder koil pengapian teriduksi dengan
      cepat dan menghasilkan tegangan yang cukup tinggi untuk
      memercikan bunga api pada busi.


      SISTEM PENGAPIAN BATERAI

      21.11.09

      Sistem pengapian (Ignition system) pada automobil berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi 10 KV atau lebih dengan menggunakan ignition coil di mana tegangan tersebut dibagikan ke tiap busi oleh distributor. Konstruksi sistem pengapian konvensial terdiri atas:
      1. Baterai
      Baterai menyediakan arus listrik tegangan
      rendah (12 V).
      2. Ignition coil berfungsi untuk menaikkan tegangan yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi yang diperlukan untuk pengapian.
      3. Distributor terdiri dari atas cam (nok), membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft poros engkol yang tepat untuk masing-masing silinder.
      *Breakerpoint (platina)
      Memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan jalan induksi magnetik listrik.
      * Capasitor atau kondensor
      Menyerap loncatan bunga api yang terjadi antara breaker point pada saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.
      * Centrifugal governor advancer
      Memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.
      *Vacuum advancer
      Memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.
      *Rotor
      Membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.
      *Distributor Cap
      Membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.
      4. Kabel tegangan tinggi(high tension cord)
      Mengalirkan ar
      us listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.
      5. Mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga melalui elektrodanya.

      SISTEM PENGAPIAN MAGNET

      24.11.09

      Sistem pengapian ini adalah salah satu sistem pada motor bakar yang penting untuk diperhatikan. Sistem penyalaan ini erat hubungannya dengan tenaga (daya) yang dibangkitkan oleh suatu mesin. Apabila sistem ini tidak bekerja dengan baik dan tepat, maka hal ini dapat mengganggu kelancaran pembakaran dengan bahan bakar dan udara di dalam selinder, sehingga tenaga yang dihasilkan oleh mesin berkurang. Pada sistem baterai, supply arus listrik berasal dari baterai, sedangkan pada sistem magnet arus listrik berasal dari generator AC.

      0 komentar:

      Posting Komentar

      Popular Posts

      next page

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news