Cari Artikel

    • ONLINE

      Rabu, 15 Desember 2010

      Abdullah Bin Salam

      Awwalul Muslimin yang seorang ini memang tidak "sepopuler" Waroqoh
      bin Naufal. Tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah
      bagaimana dia masuk Islam, seperti hadits panjang yang diriwayatkan
      oleh Anas ra. berikut ini:
      
      Setelah Abdulloh bin Salam mendengar berita tentang kedatangan
      seorang Nabi, datanglah dia ke Makkah, dari tempat asalnya yang
      cukup jauh.
      "Sesungguhnya aku datang untuk mengajukan tiga pertanyaan yang tidak
      akan ada yang bisa menjawabnya, kecuali seorang Nabi :
      Pertama, apakah tanda awal dari hari kiamat?
      Kedua,   apakah makanan pertama ahli sorga?
      Ketiga,  mengapa seorang anak kadang menyerupai bapaknya, kadang
      menyerupai ibunya?"
      "Telah mengkhabarkan Jibril barusaja, apa jawaban ketiga pertanyaan
      tsb" jawab Nabi.
      "Jibril?" tanya Abdulloh.
      "Ya" jawab Nabi.
      "Dia adalah malaikat yang dimusuhi Yahudi". kata Abdulloh.
      Lalu Nabi membaca ayat mengenai Malaikat Jibril, diteruskan menjawab
      "teka-teki" berikut :
      
      Katakanlah :”Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu
      telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin
      Allah...”[QS. 2, Al-Baqoroh : 97]
      Pertanda awalnya kiamat adalah akan adanya api yang akan menggiring
      manusia dari Timur ke Barat.
      Makanan awal ahli sorga adalah lemak hati ikan.
      Kalau mani laki-laki keluar mendahului perempuan, anaknya akan
      menyerupai bapaknya, dan sebaliknya, kalau mani perempuan keluar
      mendahului laki-laki, anaknya akan menyerupai ibunya"
      
      Memperoleh jawaban yang tepat demikian itu, Abdulloh langsung
      mengucapkan syahadat :
      
      "Asyhadu anlaa ilaah illallahu, wa asyhadu annaka Rasuulullaah”.
      
      ”Ya Rosulullooh, sesungguhnya Yahudi adalah kaum pendusta.
      Seandainya mereka tahu dengan keIslamanku, niscaya mereka (yang
      tadinya sangat menghormatiku) akan menghina saya".
      
      Kebetulan lewat sekelompok Yahudi yang lalu ditanya Nabi :
      "Siapakah Abdulloh itu?"
      ”Dia adalah khairunaa (sebaik-baiknya dari kami), wabnu khairunaa
      (dari keturunan terbaik kami), wa sayyidunaa (dan sayyid kami),
      wabnu sayyidunaa
      (dan keturunan sayyid kami)”, kata para Yahudi itu, dengan bangga.
      "Bagaimana seandainya Abdulloh bin Salam masuk Islam?" tanya Nabi.
      "Kami berlindung kepada Alloh dari hal itu".
      Tiba-tiba, keluarkan Abdulloh. Lalu didepan kaumnya yang Yahudi tadi,
       dia bersyahadat : "Asyhadu anlaa ilaah illallahu, wa asyhadu anna
      Muhammadan Rasuulullaah”.
      
      Akibatnya, seketika saja, Yahudi yang baru saja menyanjung-nyanjung
      setengah mati, kini berbalik menjadi sewot :
      "Syarrunaa (sejelek-jeleknya kami), wabnu syarrunaa (sejelek-jeleknya
       keturunan kami)”.
      
      Sejak itu, Yahudi "membuang" Abdulloh. Dari yang tadinya ulama
      panutan yang sangat dihormati, menjadi orang yang paling mereka
      hinakan.
      (HR. Bukhori)
      
      Sedih? Susah?
      Tentu saja tidak. Sebab Abdulloh bin Salam faham dengan ucapan
      Waraqah bin Naufal : ”Tidak akan datang seorang laki-laki yang
      membawa ajaranmu Muhammad, kecuali akan disakiti”.
      Demikian ucapan terkenal Waroqoh bin Naufal. Dengan maksud yang sama,
       dalam akhir hadits tsb, Abdulloh berkata : ”Ya Rosul, Inilah
      perkara yang saya kuatirkan”
      
      Maka bagi para ikhwan, yang dalam membawa ajaran Islam ini kadang-
      kadang "disakiti", kalem saja. Demikian itulah memang pembawaannya.
      Atau bagi para ukhti yang setelah menetapi Islam dengan kaaffah terus
       "disakiti", tenang saja. Tawakkal. Demikian itulah memang
      garisannya.
      
      Kalau Abdulloh bin Salam dan Waroqoh bin Naufal disakiti ahli kitab,
      kaumnya sendiri, kalau kita? Yang paling sering adalah "disakiti"
      sesama. Mengapa?
      
      Diantaranya : "semakin anehnya gaya hidup yang mengikuti Sunnah
      Rosulullah di mata ummat Islam sendiri, apalagi di mata non-Muslim",
       Dibuka ayat ini : "aneh". Disampaikan hadits itu : "asing".
      Diterangkan hukum ini :
      "baru denger tuh". Diulas perkara itu : "ada-ada aja".
      
      Merasa aneh sih boleh-boleh saja. Asal jangan ada buntutnya yang
      tidak mengenakkan para muballighin (penyampai).
      Sebelum check-recheck, jauhi benar tuh meng-counter ayat/hadits yang
      disampaikan mereka.
      
      Wallahu a’lam bish shawab.
      
      Sumber : ktpd.isnet.
      
      Naskah ini telah mengalami pengeditan tanpa merubah apalagi mengurang
      isinya.

      0 komentar:

      Posting Komentar

      Popular Posts

      next page

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news